Senin, 17 November 2014

Perkembangan Batik


2 Oktober  adalah hari Batik Nasional. Penetapan Hari Batik memiliki gaungnya setelah Malaysia secara sepihak mengakui Batik adalah hak kekayaan Intelektual bangsa Malaysia. Apa yang dilakukan Malaysia adalah bukan tindakan budaya, tapi tindakan ekonomi yaitu : Memperoleh hak pengakuan Kapital atas batik sehingga batik akan memiliki daya hidup industrinya mulai dari produk massal sampai dengan produk high-end.
 Batik memiliki riwayat panjang dalam sejarah Indonesia terutama sejarah Jawa berhubungan dengan kekuasaan, permulaan sebuah tempat ataupun persoalan ekonomi. Di Solo terkenal ada kampung bernama Laweyan. Kampung ini amat dikenal bukan saja di Solo sebagai kampung perajin batik dan saudagar batik tapi juga dikenal luas secara nasional dan Internasional. Berdirinya kampung Laweyan ini erat dengan kaitannya jatuhnya kekuasaan Majapahit ke tangan Kerajaan Islam Demak dan menjadi simbol pelestarian budaya membatik tinggalan Majapahit yang terkenal indah itu di masa kekuasaan Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijoyo pada tahun 1549-1582. Setahun setelah Sultan Hadiwijoyo naik tahta, kelompok keturunan Ki Ageng Selo mendapat tempat khusus dalam struktur pemerintahan kerajaan. Salah satunya adalah Ki Ageng Ngenis, cucu dari Ki Ageng Selo (Ki Ageng Selo adalah cucu dari Brawijaya V, Raja Mapahit terakhir). Ki Ageng Ngenis diperintahkan untuk membangun sebuah desa yang diberi nama Laweyan.
Batik yang dikembangkan di Laweyan tak lepas dari perkembangan batik Majapahit yang dibangun oleh Adipati Kalang pada masa pemerintahan Majapahit. Adipati Kalang saat itu menguasai industri batik di wilayah Mojokerto dan menolak tunduk pada Majapahit lantas diserang lalu dihancurkan oleh Majapahit, beberapa ahli seni batiknya dibawa ke Keraton Majapahit dan kemudian mengajarkan batik kepada kawula Majapahit sehingga dijadikan seni rahasia Istana.

Ki Ageng Ngenis kemudian bergelar Ki Ageng Laweyan membangun pusat studi batik bergaya Majapahit, Di masa inilah kemudian berkembang motif-motif yang mendasari desain batik Jawa era Mataram Islam disebut motif Mataram karena motif ini sangat booming setelah Pajang kalah dengan Mataram pada tahun 1580-an. Di ceritakan saat Raden Pabelan (Keponakan Sutawijaya -penguasa Mataram) menggoda puteri bungsu Sultan Hadiwijoyo, Raden Pabelan mengenakan batik bangsawan Keraton Pajang yang tidak boleh dipakai sembarangan, dan saat Raden Pabelan menyusup ke lingkungan Sekar Kedaton, digambarkan puteri bungsu Mataram sedang membatik dengan canting, hal yang seperti ulangan pada kisah lama saat Raden Joko Tingkir (nama muda Sultan Hadiwijoyo) menerobos pintu masuk tembok Sekar Kedaton Demak untuk berkencan dengan anak Raja Demak yang juga sedang membatik. Pada masa pemerintahan Panembahan Senopati di Mataram berkembang bengkel batik yang luar biasa maju yaitu di Plered. Sampai saat ini bekas ibukota kerajaan Mataram itu masih menyisakan industri batik yang cukup massif, bahkan batik cap yang kemudian berkembang tahun 1920-an berawal dari inovasi saudagar-saudagar batik Kotagede.
Sampai pada era Perang Diponegoro 1825-1830. Batik masih menjadi seni rahasia Istana terutama untuk motif-motif khusus seperti Sidomukti dan Sidoluruh. Perang Diponegoro adalah perang yang amat besar dan massif. Pada saat itu banyak bangsawan terlibat atas perang besar ini, sehingga ketika Belanda melakukan strategi perang benteng stelsel yaitu : membangun tangsi disetiap tempat yang dikuasai maka keluarga bangsawan yang mendukung Diponegoro banyak mengungsi ke wilayah-wilayah di luar Yogyakarta. Wilayah Banyumas adalah wilayah yang paling banyak menjadi tempat pengungsian para bangsawan Yogyakarta. Selain Banyumas juga bangsawan tersebut mengungsi ke Pekalongan dan menetap disana. Disinilah kemudian corak-corak batik berkembang luas dan pengaruh Solo-Yogya dianggap sebagai dasar seluruh batik Jawa dan Madura.
Batik menjadi produksi paling utama di Jawa. Perkembangan Batik menjadi amat kuat setelah ditemukannya metode penanaman serat kapas (ciam) dari tanaman Jong yang sangat ahli dilakukan oleh orang-orang Cina di Pekajangan (Pekalongan) pada tahun 1880. Ditemukannya serat ini membuat jiwa dagang orang Pekalongan tumbuh. Banyak dari saudagar-saudagar Pekalongan baik keturunan Cina atau Jawa asli yang berpindah ke Solo dan membangun usaha Batik. Kemudian pada tahun 1898, Sunan Pakubowono X, Raja Solo yang baru diangkat beberapa tahun sebelumnya memerintahkan dibangun sebuah sentra perdagangan sekaligus koperasi-koperasi bagi usaha Batik. Konsep Koperasi menjadi obsesi Sunan Solo setelah membaca sebuah buku tentang Koperasi di Inggris tentang industri tekstil. Atas titah Sunan inilah kemudian berdiri puluhan koperasi di Solo. Lantas kemudian diikuti berdirinya koperasi diluar wilayah Voorstenlanden (Solo dan Yogya) yaitu di Pekalongan, Semarang dan Cirebon.
Pada tahun 1948, beberapa pengusaha Solo dan Pekalongan bertemu untuk membangun sebuah gabungan koperasi batik Indonesia. Lalu beberapa orang dipimpin Haji Djunaid menghadap ke Pemerintah Indonesia yang saat itu berada di Yogyakarta. Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan mengajak para pengusaha bergabung dan bersatu membentuk “Gabungan Koperasi Batik Indonesia”. Atau disingkat “GKBI”. Kekayaan GKBI sempat berjaya ketika Pemerintahan Republik Indonesia di tahun 1950-an memutuskan bahwa GKBI dilindungi pemerintah dengan memberikan konsesi khusus harga pada kain mori dan penyediaan kain putih. Pada tahun 1960 bahkan Presiden Sukarno mengajak seluruh rakyat memakai batik sebagai pakaian nasional. Sejak 1964 pesta-pesta pernikahan resmi yang tadinya orang-orang mengenakan jas ala Belanda mulai banyak yang memakai batik sebagai bentuk pakaian formal.


Kehancuran industri batik justru terjadi pada masa pemerintahan Suharto yang tidak lagi melihat batik sebagai kekuatan industri nasional. Suharto mencabut momopoli khusus peredaran batik oleh GKBI dan konsesi-konsesi lainnya serta meliberalisasi impor tekstil yang membuat batik terpuruk oleh jenis pakaian lain yang lebih murah. Puncaknya adalah tahun  1985 batik menjadi hancur setelah GKBI terjerat hutang ke banyak pihak.
Industri batik nasional kemudian surut ke belakang dan diramalkan akan punah. Penyelamat dari kesadaran batik nasional justryu terjadi di kalangan elite dan sosialita negeri ini. Adalah Iwan Tirta yang berhasil membangun kekayaan batik nasional dengan menciptakan batik high-end dengan kain  sutera dan berbenang emas. Tirta mengenalkan ke banyak kepala negara, bahkan Nelson Mandela seakan-akan tak lepas dari baju batiknya.
Kini kesadaran orang Indonesia tentang batik adalah penyelamatan warisan kekayaan nasional setelah Malaysia mengaku-aku batik menjadi klaim kekayaan mereka dan mulai munculnya arabisasi dalam dunia fashion Indonesia.
Batik adalah budaya nasional.

0 komentar:

Posting Komentar